20 Penyebab Kegagalan Berdasarkan Analisis Napoleon Hill

Apakah penyebab kegagalan berdasarkan analisis Napoleon Hill? Tidak ada seorangpun yang ingin mengalami kegagalan, walaupun kegagalan itu sendiri “dihadirkan” untuk menjadi pil pahit pemicu semangat meraih suatu kesuksesan dalam suatu tangga keberhasilan. Namun, apa saja yang menjadi penyebab kegagalan, terutama faktor intern dalam diri kita sendiri sebagai seorang entrepreneur agar dapat meminimasi kesalahan sehingga mampu meraih kesuksesan? Berikut ini, beberapa penyebab kegagalan tersebut akan dipaparkan oleh saya melalui artikel berikut ini. Selamat membaca dan terinspirasi!

Sukses Impian Setiap Orang

Setiap orang pasti ingin berhasil dan mencapai kesuksesan, tetapi banyak yang mengalami kegagalan karena menganggap keberhasilan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang kaya dan pintar. Apakah pemikiran Anda selemah itu? Setiap manusia diberikan banyak jalan agar sukses dalam hidupnya, terutama dalam hal kemakmuran dan penghasilan. Hanya saja, banyak orang tidak sadar sudah menggagalkan dirinya sendiri.

Berdasarkan penelitian , 60% dari semua bisnis baru tidak mencapai usia 6 tahun (Business; Griffin & Ebert). Sebuah artikel dari Kompas.com mengungkapkan fakta bahwa hanya 1 dari 4 bisnis yang dirintis dapat bertahun selama 15 tahun lebih. Kebanyakan dari pebisnis gagal di 5 tahun pertama.

Tragedi yang paling besar dalam kehidupan adalah mengejar kesuksesan dan berusaha dengan sungguh-sungguh, namun tetap saja mengalami kegagalan. Napoleon Hill, penulis buku Think and Grow Rich mengungkapkan melalui riset terhadap beberapa ribu pria dan wanita, dimana 98% diantaranya diklarifikasi sebagai “orang gagal”. Berikut ini, beberapa penyebab utama kegagalan dalam melakukan wirausaha yang akan diringkas melalui rubrik berikut ini oleh saya

#1 Latar Belakang Keturunan yang Tidak Menguntungkan

Hal ini memang dipengaruhi oleh keadaan tubuh dan juga kekuatan otak dari seseorang. Namun hanya sedikit persentasenya orang yang dilahirkan dengan keadaan cacat terutama keadaan otak yang kurang mumpuni menjadi seorang pribadi yang berhasil. Hal ini memang tidak mudah untuk diperbaiki.

#2 Kurangnya rencana Hidup

Tidak ada harapan bagi mereka yang tidak memiliki tujuan utama atau sasaran pasti untuk dicapai. Napoleon menyatakan bahwa 98 dari 100 orang yang pernah ia analisis tidak memiliki tujuan hidup.

#3 Kurangnya Ambisi untuk Mencapai Sasaran di Atas Rata-rata

Orang yang tidak mau maju dalam hidup, mereka tidak akan mau untuk membayar harga dari suatu kemajuan.

#4 Pendidikan yang Tidak Cukup

Penyebab yang satu ini sebetulnya dapat diatasi dengan mudah. Pengalaman telah membuktikan bahwa orang yang paling terdidik biasanya adalah mereka yang dikenal sebagai orang yang mampu membentuk atau mendidik diri sendiri. Diperlukan lebih dari sekedar gelar sarjana untuk membuat seseorang terdidik. Orang yang berpendidikan adalah orang yang telah belajar cara mendapatkan apa saja yang ia inginkan dalam hidup tanpa melanggar hak-hak orang lain. Pendidikan berisi pengetahuan yang diterapkan secara tekun dan efektif. Orang dibayar bukan semata-mata karena apa yang ia ketahui, melainkan pengetahuan yang mereka terapkan dalam hidup.

#5 Kurangnya Disiplin Pribadi

Disiplin datang melalui pengendalian diri sendiri. Ini berarti bahwa seseorang harus dapat mengendalikan hal-hal negatif dalam dirinya. Sebelum Anda mengendalikan suatu keadaan, tentu saja Anda harus dapat mengendalikan diri sendiri terlebih dahulu. Penguasaan diri memang merupakan pekerjaan yang paling sulit yang harus ditangani oleh semua manusia. Apabila Anda tidak dapat menaklukan diri sendiri, maka Anda akan ditaklukkan oleh diri Anda sendiri. Memang benar kutipan yang mengatakan bahwa musuh terbesar Anda adalah diri Anda sendiri.

#6 Kesehatan yang Buruk

Kesuksesan pun tidak lepas dari kondisi kesehatan tubuh yang fit dan prima. Bayangkan seorang yang sering sakit-sakitan, apakah mampu untuk meraih kesuksesan? Banyak penyebab kesehatan buruk yang merupakan kurangnya penguasaan dan pengendalian diri sendiri, diantaranya terlalu banyak makan makanan yang merugikan kesehatan, terlalu sering berpikir yang berat, hal-hal negatif dan membuat stress dan kurangnya latihan olahraga secara rutin.

#7 Pengaruh yang Tidak Menguntungkan di Masa Anak-anak

Tahukah Anda peribahasa yang mengatakan bahwa buah jatuh tidak jauh dari buahnya? Kebanyakan orang yang mempunyai kecenderungan sebagai penjahat adalah akibat dari lingkungan yang buruk dan pergaulan yang kurang baik, terutama di masa kanak-kanak. Tentu saja ketika kita sudah ditanamkan nilai-nilai yang baik sejak kecil, belum tentu lingkungan pada masa dewasa tidak berpengaruh pada kepribadian seseorang. Sebuah kalimat mengatakan bahwa pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.

#8 Suka Menunda-nunda

Ini salah satu penyebab yang biasa terjadi. Kebiasaan buruk suka menunda pekerjaan membayangi setiap orang. Setiap orang berpeluang untuk sukses namun seringkali digagalkan oleh tabiat yang satu ini. Kebanyakan dari kita, hidup sebagai orang gagal karena tidak segera menyelesaikan tugasnya. Ketika sering menunda pekerjaan, akhirnya semua hal menumpuk dan dikerjakan terburu-buru tanpa hasil maksimal. Padahal jika pekerjaan Anda diselesaikan tepat waktu, akan ada kesempatan lain untuk membidik titik sukses yang lain. Mulailah sekarang juga dan bekerja dengan alat apa saja yang dapat digunakan untuk menyelesaikan tugas. Jangan menunggu, jadi hentikan kebiasaan ini, sekarang juga!

#9 Kurang Tekun

Sangat mudah untuk memulai sesuatu dan mengawali suatu pekerjaan namun sangat sulit dalam menyelesaikan tugas tersebut. Kegagalan tidak pernah mengalahkan ketekunan. Lakukan terus, terus dan terus untuk memperoleh hasil yang maksimal. Jangan biarkan kegagalan membuat ketekunan kita menjadi kendor dan tidak mau berjuang untuk meraih kesuksesan.

#10 Kepribadian Negatif

Seorang yang pintar dan cerdas namun memiliki kebiasaan dan kepribadian yang negatif seperti sombong, egois dan mementingkan diri sendiri ternyata membuktikan bahwa kepribadian yang negatif tidak dapat menarik kerja sama dengan orang lain. Mungkin saja ada, namun bisa dipastikan tidak akan berlangsung lama. Belajar untuk mengikis kebiasaan dan kepribadian yang buruk agar dapat menjadi pribadi yang semakin positif serta menjadi inspirasi bagi orang lain sehingga ketika kita mampu memiliki daya tarik dari personalitas dan kepribadian kita, maka banyak orang yang mau menjadi rekan dan mau bekerja sama dengan kita.

#11 Keinginan Tak Terkendali Tanpa Adanya Pengorbanan

Intuisi berjudi mendorong jutaan orang menuju kegagalan. Bukti tentang hal ini bisa ditemukan dalam penelitian terhadap jatuhnya Wall Street pada tahun 1929, ketika berjuta-juta orang berusaha mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya dengan berjudi dalam transaksi saham.

#12 Kurangnya Keyakinan dalam Mengambil Keputusan

Saat mengalami jalan buntu, sebaiknya kita berhenti ragu-ragu dan mulai bertindak. Kita juga mungkin menyadari bahwa melanjutkan hidup lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Walaupun begitu, segeralah untuk mengubah hidup dengan melepaskan perfeksionisme dan menetapkan tujuan untuk diri sendiri. Jika kita terbiasa ragu-ragu dalam mengambil keputusan, kita akan menjadi gamang menjalani hidup ini, kita akan menjadi orang yang tidak punya pendirian.

#13 Pilihan Teman Hidup yang Keliru

Memilih pasangan hidup bukanlah perkara yang mudah karena pasangan hidup adalah orang yang akan menjadi partner pendukung kita baik dalam suka maupun duka, yang akan menyokong setiap aspek hidup kita bahkan menjadi motivasi bagi usaha kita. Namun, apa jadinya ketika seseorang melakukan kesalahan dalam memilih teman hidup. Kehidupan berumah tangga juga sangat mempengaruhi masa depan seseorang dan keberhasilan yang akan diraih. Ada pendapat yang mengatakan adalah kesalahan terbesar dalam hidup seseorang adalah salah dalam memilih teman hidup.

#14 Terlalu Berhati-hati

Orang yang tidak berani mengambil risiko biasanya terpaksa menerima apa yang tersisa setelah semua orang memilih. Terlalu berhati-hati sama buruknya dengan kurang berhati-hati karena keduanya adalah keadaan ekstrem yang harus dihindari. Perlu disadari bahwa hidup pun penuh dengan unsur risiko.

#15 Pilihan Rekan Bisnis yang Keliru

Ini adalah salah satu penyebab yang paling lazim dalam berwirausaha terutama bagi Anda yang terjun dalam dunia bisnis. Pilihlah rekan bisnis yang dapat membawa Anda kepada satu kondisi yang terus belajar dan terus terinspirasi serta termotivasi untuk maju.

#16 Percaya pada Takhayul dan Berprasangka

Percaya pada takhayul merupakan salah satu bentuk rasa takut dan merupakan satu bentuk kebodohan. Orang yang sukses akan tetap membuka pikiran kepada hal-hal yang positif.

#17 Pilihan Usaha yang Keliru

Seseorang tidak akan pernah meraih sukses apabila ia melakoni suatu usaha yang sebetulnya bukan menjadi passion atau ketertarikannya. Lakukan bidang usaha Anda sesuai dengan pilihan hati Anda dan tekuni serta cintai pekerjaan yang Anda lakukan.

#18 Kurangnya Fokus terhadap Usaha

Orang yang serba bisa, biasanya kurang fokus terhadap apa yang ia kerjakan. Pusatkan pikiran pada satu tujuan yang pasti yang akan Anda raih. Disarankan untuk menyelesaikan satu per satu dari apa yang Anda kerjakan agar tetap fokus dalam pengerjaan dan penyelesaiannya.

#19 Kebiasaan Terlalu Boros

Orang yang terlalu boros tentu saja akan jauh dari pada kesuksesan dan keberhasilan. Biasakan diri untuk senang menabung secara sistematis dan teratur dengan menyisihkan persentase yang pasti dari penghasilan bulanan Anda.

#20 Kurang Modal

Ini merupakan penyebab umum kegagalan di antara mereka yang memulai bisnis untuk pertama kalinya tanpat cadangan modal yang cukup dalam mengatur roda usaha mereka.

Sumber Berita

Asuransi Di Sepanjang Hidup

Mengapa asuransi jiwa diperlukan oleh setiap orang , di sepanjang usia? Kali ini, saya akan membahas mengenai kebutuhan asuransi jiwa untuk setiap usia, dari usia 20 tahunan sampai usia 60 tahunan. Selamat membaca!

Asuransi Jiwa di seumur hidup

Asuransi jiwa menjadi kebutuhan utama bagi beberapa orang. Dengan membeli asuransi jiwa sebenarnya Anda membeli ‘ketenangan’ bahwa jika Anda meninggal dunia nanti, keluarga yang ditinggalkan tidak akan kesulitan. Baik itu untuk membayar biaya kehidupan sehari-hari mereka, atau untuk melunasi utang Anda yang ditinggalkan jika meninggal dunia sebelum lunas. Manfaatnya akan sangat terasa terutama jika Anda sudah menikah dan memiliki anak atau tanggungan.

Asuransi jiwa juga dibutuhkan bagi Anda yang memiliki utang dalam jumlah yang cukup besar. Misalnya seperti KPR, Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), pinjaman usaha, dan kebutuhan lainnya. Namun, biasanya asuransi jiwa untuk pinjaman seperti ini sudah secara otomatis harus Anda miliki ketika akan meminjam dana. Tetapi asuransi jiwa yang dibeli sendiri untuk kebutuhan keluarga adalah sebuah pilihan. Anda bisa memilih untuk membelinya sekarang, membelinya nanti, atau tidak membelinya sama sekali.

Pada setiap tahapan usia, manusia bisa memiliki cara pandang yang berbeda-beda. Seorang anak kecil memiliki pandangan yang berbeda dengan anak remaja. Sementara seorang anak remaja memiliki pandangan yang berbeda pula dengan mereka yang sudah dewasa. Namun pada setiap tahapan usia, kedewasaan seseorang juga masih akan berubah.

Untuk Anda yang masih baru lulus kuliah dan baru mulai bekerja mungkin saat ini merasa bahwa asuransi jiwa tidak dibutuhkan. Kali ini, saya akan membahas mengenai pandangan terhadap asuransi jiwa berdasarkan tahapan usianya. Mari kita simak infografis berikut ini:

#1 Usia 20an

Ketika berusia 20an Anda masih sangat muda dan bugar. Penampilan masih tampak sangat segar dan bersih, memiliki banyak energi untuk melakukan pekerjaan apa saja. Semangat Anda di dunia kerja juga masih berapi-api karena baru mulai memasuki dunia kerja. Dalam tahapan ini, pendapatan biasanya masih relatif rendah tetapi Anda memiliki potensi yang besar untuk dapat berkembang dalam karier.

Di sinilah tahap penentuan secara jangka panjang akan menjadi apa Anda kelak. Karena itu, masa depan masih terlihat sangat panjang dan peluang untuk masa depan yang cemerlang masih begitu jelas di depan mata Anda. Seseorang yang berusia 20an tentu memiliki harapan yang begitu cerah untuk masa depannya. Karena merasa masih begitu muda, sehat, bugar dan bebas, Anda bahkan merasa akan hidup selamanya! Pada titik ini asuransi jiwa akan terlihat seperti sesuatu yang sangat ‘orang tua’, bukan kebutuhan Anda. Bahkan mungkin tidak ada di dalam prioritas Anda sama sekali (padahal sebenarnya premi asuransi jiwa termurah bisa Anda dapatkan pada tahap usia ini daripada ketika sudah menua nanti).

#2 Usia 30an

Ketika menginjak usia 30an Anda mulai berpenampilan layaknya seorang eksekutif. Menggunakan pakaian rapi, sepatu bermerek dan tas mahal untuk menunjukkan kemapanan Anda (sekaligus untuk menunjukkan sedikit kharisma kepada atasan maupun kepada orang lain). Pekerjaan masih berjalan dengan lancar karena masih didukung oleh fisik yang kuat, walaupun sudah tidak sebugar ketika berusia 20an.

Kuliah sudah selesai, karier sudah mulai meningkat. Jika sebelumnya Anda masih berada di tahapan staf, pada usia 30an mungkin Anda mulai beranjak menginjak posisi manajer. Peningkatan karier tentunya diikuti dengan peningkatan penghasilan. Anda lebih leluasa menggunakan uang untuk kebutuhan dan keinginan. Pada tahapan usia ini Anda mungkin sudah menikah atau memiliki anak sehingga secara psikologis kedewasaan Anda meningkat dan menjadi sedikit lebih bijaksana. Tetapi jiwa muda masih tetap menggebu dalam diri Anda.

Biasanya pada tahapan usia ini Anda mulai terpikir untuk membeli asuransi jiwa karena sudah memiliki tanggungan. Asuransi jiwa pada tahapan ini masih relatif murah, walaupun belum tentu semurah ketika Anda berusia 20an. Hal ini tentunya karena kondisi fisik Anda masih segar dan sehat sehingga peluang terserang penyakit masih relatif rendah (walaupun sebenarnya ini tergantung dengan pola hidup dan pola keuangan Anda, orang yang terlalu stres memikirkan keuangan yang berantakan bisa terkena stroke atau penyakit jantung dini lho!).

#3 Usia 40an

Selamat! Anda sudah mendapatkan promosi jabatan dan gaji yang tinggi dalam pekerjaan. Menginjak usia 40an, Anda mulai sedikit santai dalam berpakaian. Kemeja seadanya, yang penting nyaman dan masih cukup rapi dikenakan ke kantor. Fashion sudah tidak begitu menjadi prioritas di mata Anda. Anda mulai memiliki pandangan yang berfokus pada tujuan yang jelas. Misalnya ingin memiliki aset atau barang-barang tertentu dalam skala yang lebih besar. Di tahapan usia yang sudah mapan ini Anda memiliki penghasilan yang lebih besar lagi daripada ketika berusia 30an.

Tetapi penghasilan yang didapatkan keluar secepat Anda mendapatkannya. Hal ini karena penghasilan bulanan harus segera digunakan untuk menggunakan berbagai kebutuhan yang semakin meningkat. Misalnya, biaya pendidikan anak yang semakin lama semakin mahal, anak yang beranjak dewasa membutuhkan berbagai gadget terbaru, pakaian yang beragam, kawat gigi yang mahal, dan lain sebagainya. Siapa yang akan membayar seluruh kebutuhan anak-anak jika Anda meninggal dunia nanti? Ditambah lagi dengan utang kartu kredit, cicilan KPR dan kendaraan baru yang harus segera dilunasi. Beban menjadi semakin berat bukan? Kalau belum memiliki asuransi jiwa, keluarga dan anak-anak nantinya bisa menjadi korban.

Bagi mereka yang belum memiliki asuransi jiwa pada tahapan usia ini barulah mulai sedikit khawatir. Membeli asuransi jiwa pada tahapan ini masih bisa diusahakan, tetapi besaran premi biasanya sudah mulai mencekik keuangan Anda. Bagaimana tidak, kondisi kesehatan sudah mulai menurun, tubuh tidak sesegar dulu, dan penyakit mulai berdatangan.

#4 Usia 50an

Anda sudah mulai merasakan penuaan, tetapi sakit punggung dan pinggang yang dirasakan belum membuat Anda rela untuk pensiun dan tinggal di pinggiran kota yang sepi (untuk mendapatkan rumah dengan harga yang lebih murah dan menghemat biaya hidup). Masih ada beberapa keinginan untuk dicapai, tetapi masih terhambat biaya. Anak-anak mulai hidup mandiri dengan keluarganya masing-masing. Karenanya Anda menghuni sarang yang kosong, perlu ada sedikit penyesuaian dalam uang pertanggungan asuransi jiwa yang sudah dimiliki.

Penampilan Anda sudah tidak lagi menarik (Anda pun sudah tidak mempedulikannya lagi). Pandangan Anda sudah siap untuk menginjak tahapan hidup yang selanjutnya yaitu menghabiskan sisa umur untuk bersantai di rumah ketika sudah pensiun nanti. Tubuh sudah tidak bugar dan kesehatan semakin menurun, karenanya membeli asuransi jiwa pada tahap ini sudah hampir mustahil. Harga preminya sangat mahal dan mungkin tidak sepadan lagi dengan peluang manfaat yang didapatkan.

#5 Usia 60an

Terakhir pada tahapan usia 60an, Anda sudah tua rentan dan tidak lagi berdaya. Bahkan mungkin Anda menghadapi permasalahan kesehatan yang serius pada tahapan usia ini. Hal yang bisa dilakukan setiap hari hanyalah melihat anak membina keluarga dan cucu-cucu semakin dewasa. Penghasilan yang diharapkan setiap bulan adalah uang pensiun dan hasil investasi (itu pun jika ada).

Jika pada tahap ini Anda belum memiliki asuransi jiwa, maka Anda sudah sangat terlambat. Di usia ini Anda akan berpikir “mengapa saya tidak membeli asuransi jiwa ketika masih muda dulu?” dan berharap bisa mengulang kembali waktu. Jika berharap membeli asuransi jiwa di usia ini, harga preminya sudah terlalu mahal dan bahkan mungkin Anda mustahil diterima menjadi nasabah asuransi jiwa.

Jangan Menunda dan Menyesal di Kemudian Hari

Asuransi jiwa merupakan bentuk proteksi yang pada akhirnya akan dibutuhkan oleh semua orang. Premi asuransi jiwa akan berubah sesuai dengan tahapan usia Anda. Semakin muda dan sehat kondisi fisik Anda maka akan semakin murah premi asuransi yang ditawarkan. Sayangnya pada usia muda terlalu banyak orang yang menganggap remeh pentingnya asuransi jiwa. Akhirnya terus menunda membeli asuransi jiwa hingga mencapai tahap usia yang sudah tua. Ketika sudah tua barulah Anda menyesal, mengapa tidak membeli asuransi jiwa sejak muda? Daripada menyesal di kemudian hari, sebaiknya pertimbangkan kebutuhan asuransi jiwa Anda sedini mungkin.

Perencanaan Keuangan Bantu Karyawan Kerja Maksimal

Bagaimana cara memaksimalkan keuntungan perusahaan dengan pelatihan perencanaan keuangan untuk karyawan? Mari kenali cara memaksimalkan keuntungan perusahaan melalui pelatihan perencanaan keuangan untuk karyawan.

Memaksimalkan Keuntungan Melalui Training

Kemajuan setiap perusahaan amat bergantung pada performa karyawannya karena karyawan merupakan salah satu aset paling utama perusahaan. Jika karyawan tidak bekerja dengan baik dan tidak berkembang maka kemungkinan perusahaan akan terus menetap pada taraf yang begitu-begitu saja. Karena itu, perlu dilakukan usaha untuk mengembangkan potensi karyawan.

Ada beragam pelatihan yang dapat dibuat oleh tim HR untuk mengembangkan potensi karyawan perusahaan. Salah satunya adalah pelatihan perencanaan keuangan pribadi. Mengapa pelatihan perencanaan keuangan dibutuhkan ?

Mengapa Perencanaan Keuangan Sangat Penting?

Perencanaan keuangan merupakan ilmu yang pada dasarnya dibutuhkan oleh setiap orang. Semua orang perlu merencanakan dan mengelola keuangannya dengan benar. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kebebasan keuangan dalam jangka panjang. Dengan perencanaan keuangan pribadi tentunya literasi keuangan karyawan Anda akan meningkat. Literasi keuangan dapat membantu seseorang untuk mengatur sumber daya yang dimilikinya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan keamanan keuangan seumur hidup.

Salah satu permasalahan utama yang dipunyai hampir setiap orang adalah keuangan. Semua orang membutuhkan uang untuk hidup. Bagi seorang karyawan mengelola keuangan (seharusnya) bukanlah hal yang terlalu sulit karena setiap bulan ada gaji tetap. Tetapi pada kenyataannya ada begitu banyak karyawan yang mengalami masalah-masalah keuangan. Misalnya utang kartu kredit yang menumpuk, kewajiban membayar cicilan terlalu mahal setiap bulan, gaji bulanan tidak cukup hingga akhir bulan dan masalah-masalah lainnya.

Uang memang bukan segalanya dalam kehidupan seseorang. Namun uang sangat diperlukan untuk membiayai hidup semua orang. Karena itu, uang menjadi faktor yang sangat esensial dalam hidup setiap orang. Dalam hal ini, termasuk kehidupan karyawan Anda. Jika hal yang sangat mendasar dalam hidupnya terganggu, sudah pasti kegiatan yang lain akan terganggu juga. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa permasalahan keuangan dapat mengganggu performa karyawan di perusahaan.

Coba posisikan diri Anda sebagai seseorang yang mengalami permasalahan keuangan. Mungkinkah Anda memahami atau bahkan mempedulikan berbagai pelatihan (yang tidak terkait perencanaan keuangan) yang diberikan perusahaan? Jika kebutuhan paling dasar sudah dikelola dengan baik secara otomatis karyawan akan lebih sejahtera. Ketika karyawan sejahtera barulah mereka memiliki kapasitas untuk memperbaiki hal lain terkait pekerjaannya. Karena itu, mulailah mengembangkan karyawan Anda dari kebutuhannya yang paling mendasar.

Mengawali Pelatihan Perencanaan Keuangan

Pelatihan perencanaan keuangan dapat menjadi salah satu program yang diprioritaskan oleh HR. Pelatihan ini dapat dijalankan sendiri oleh tim HR atau dengan menggunakan jasa pihak luar. Dalam prosesnya, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh pemberi pelatihan:

#1 Cari Tahu Kebutuhan Karyawan dan Perusahaan

Hasil yang dikejar dari pelatihan perencanaan keuangan karyawan adalah untuk menyejahterakan karyawan. Dengan harapan performa kerja karyawan tersebut di perusahaan akan meningkat sehingga peluang pertumbuhan perusahaan akan semakin baik.

Dalam hal ini kedua belah pihak, baik karyawan dan perusahaan, sama-sama memiliki kepentingan. Karyawan membutuhkan hidup yang lebih sejahtera, sementara perusahaan membutuhkan pertumbuhan profit dan performa. Karena itu sebelum membentuk pelatihan perencanaan keuangan, pastikan Anda benar-benar mengenali apa kebutuhan karyawan dan perusahaan.

#2 Mulai dari Hal Kecil dan Terus Berkembang

Perencanaan keuangan pribadi mencakup ranah yang luas dalam kehidupan seseorang. Hal ini juga sejalan dengan berbagai jenis permasalahan keuangan yang perlu diselesaikan dalam hidup karyawan Anda. Karena itu, ada banyak materi yang perlu disampaikan dalam pelatihan perencanaan keuangan.

Hanya saja Anda tidak disarankan untuk langsung berusaha menyelesaikan seluruh permasalahan tersebut sekaligus. Mulailah dari hal kecil, misalnya menyelesaikan satu permasalahan keuangan karyawan. Seorang karyawan bisa memiliki masalah utang, belum memiliki dana pensiun, serta cicilan bulanan yang terlalu besar. Anda bisa memulai pelatihan dari bagaimana cara mengelola keuangan dengan baik agar tidak terlilit utang.

Jika sudah berhasil dengan satu poin pelatihan, Anda dapat melanjutkan poin-poin lainnya. Sedikit demi sedikit hingga akhirnya seluruh materi tersampaikan. Ingat, tidak semua karyawan Anda memiliki latar belakang ilmu keuangan. Jika Anda langsung membombardir karyawan dengan puluhan materi keuangan, bisa jadi karyawan justru akan melupakan semuanya.

#3 Buat Target dan Objektif Program

Sebelum membuat desain pelatihan, tentukan dulu target dan objektif dalam program tersebut. Baik target dan objektif bagi masing-masing pihak (perusahaan dan karyawan), maupun target dan objektif pelatihan secara keseluruhan. Nantinya target dan objektif inilah yang akan dijadikan dasar pertimbangan desain pelatihan.

#4 Buat Pelatihan yang Relevan dengan Perspektif Peserta

Seringkali pelatihan bagi karyawan hanya masuk di telinga kiri kemudian segera keluar di telinga kanan. Padahal materi yang ingin disampaikan adalah materi yang penting. Lalu bagaimana cara mendapatkan perhatian dan fokus para peserta pelatihan? Caranya adalah dengan membuat pelatihan yang relevan dengan perspektif peserta.

Satu hal yang sudah pasti akan menarik perhatian seseorang adalah ketika Anda berbicara mengenai hal yang secara langsung terkait dengan orang tersebut. Baik itu hal yang disukainya, atau sesuatu yang sangat dibutuhkannya. Misalnya, ketika Anda menyampaikan mengenai cara mengelola keuangan bulanan. Cobalah untuk memberikan analogi yang benar-benar dirasakan oleh para karyawan sehari-hari. Contohnya, daripada memberikan pertanyaan seperti ini:

“Pernahkah Anda mengalami permasalahan dalam mengelola keuangan bulanan?”

Bagi seseorang yang sudah terliterasi keuangan dengan baik, mengelola keuangan mungkin terdengar seperti sesuatu yang jelas. Tetapi karyawan yang masih awam akan keuangan tidak mengerti apa sebenarnya yang dimaksud dengan mengelola keuangan. Apakah itu berarti harus menuliskan sebuah laporan? Atau membuat amplop-amplop khusus untuk setiap anggaran? Atau seperti apa? Istilah ‘mengelola keuangan’ hanya akan menjadi istilah yang masuk telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan. Sebaliknya Anda bisa memberikan pertanyaan seperti ini:

“Pernahkah Anda sangat ingin membeli sebuah barang tetapi ketika mengecek saldo rekening, ternyata uang sudah menipis. Padahal gajian masih beberapa minggu lagi.”

Biarkan peserta pelatihan terbawa dan merasakan langsung apa yang Anda jelaskan. Dengan begitu Anda telah membuka jalan untuk memasukkan materi-materi penting yang harus disampaikan. Apa yang Anda sampaikan akan terekam dalam pikiran peserta, bukan hanya masuk telinga kiri dan keluar melalui telinga kanan.

#5 Buat Pola Desain, Implementasi dan Evaluasi Program

Sebuah pelatihan dibuat untuk mencapai suatu tujuan. Tugas Anda bukan hanya mendesain pelatihan, tetapi juga memastikan bahwa hasil dari pelatihan itu sesuai dengan target awal. Karena itu buatlah pola desain pelatihan sedemikian rupa agar apa yang disampaikan dapat diimplementasikan oleh para peserta. Setelah itu jangan lupa juga untuk menyiapkan strategi evaluasi hasil pelatihan. Jika pada kenyataannya hasil pelatihan kurang efektif, Anda bisa memperbaikinya di kemudian hari. Dengan begitu program pelatihan ini berjalan secara berkelanjutan.

#6 Pilih Cara Penyampaian Materi yang Tepat

Setiap orang memiliki karakter dan cara belajar yang berbeda-beda. Ada orang-orang yang belajar secara visual, auditori dan kinestetik. Bukan hanya soal teknis, tetapi juga soal gaya menyampaikan. Apakah penyampaiannya santai atau formal? Dan masih ada berbagai faktor lainnya. Mana cara yang paling sesuai dengan kebutuhan karyawan Anda?

Sumber Berita

Berinvestasi dengan Tutup Mata, Berapa Keuntungan Investasi Anda!

Banyak orang yang berinvestasi tanpa mengetahui apa sebenarnya keuntungan investasi. Cara berinvestasi seperti ini sering dilakukan seseorang karena tidak mau repot, padahal penting untuk terus memantau hasil investasi Anda secara berkala. Kali ini, saya akan membahas bagaimana cara mengkalkulasi keuntungan investasi Anda.

Apakah Tahu Berapa Keuntungan Investasi Kamu ?

Dewasa ini, investasi sudah bukan menjadi barang asing lagi bagi berbagai lapisan masyarakat, terutama bagi mereka yang sudah terliterasi keuangan dengan baik . Ada begitu banyak produk investasi yang bisa diakses oleh siapa saja di pasar. Bahkan sekarang berbagai perusahaan penyedia produk investasi sudah menyediakan produk-produk dengan modal minimal yang kecil sehingga investasi benar-benar dapat dijangkau oleh setiap lapisan masyarakat.

Produk-produk tersebut beragam dari yang paling sederhana dan sangat mudah dipahami hingga yang paling sulit dimengerti. Risiko dan return-nya pun bermacam dari yang terendah hingga yang tertinggi. Karena berbagai macam karakteristik produk investasi tersebut maka setiap investor harus mempertimbangkan dengan matang produk mana yang sesuai dengan kebutuhan dan preferensinya.

Apapun produk investasi yang digunakan , tujuan utamanya tetap sama yaitu untuk mendapatkan keuntungan. Setiap investor pasti berinvestasi untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, untuk memenuhi salah satu tujuan keuangannya seperti membeli mobil dan rumah. Bisa juga untuk mempersiapkan pendidikan anak di masa depan. Seharusnya setiap orang berinvestasi untuk satu tujuan keuangan yang jelas. Walaupun demikian pada kenyataannya banyak orang yang berinvestasi tanpa mengetahui tujuan yang jelas. Tidak ada target nominal yang ingin dicapai atau untuk apa nominal uang tersebut akan digunakan.

Namun, bagi investor yang tidak memiliki tujuan keuangan yang jelas sekalipun, pasti tetap mengharapkan keuntungan dari investasi. Tidak mungkin ada investor yang ingin berinvestasi untuk mendapatkan kerugian. Hanya saja apakah Anda benar-benar memperhitungkan berapa keuntungan investasi yang Anda dapatkan? Nyatanya banyak orang yang berinvestasi secara ‘tutup mata’. Tidak penting berapa yang sudah didapatkan, yang penting saya tetap terus menyetor dana untuk investasi secara rutin setiap bulan.

Sikap seperti ini sebenarnya kurang bagus dilakukan dalam proses berinvestasi. Dengan kebiasaan seperti ini bisa saja Anda lengah dan tidak menyadari bahwa sebenarnya produk investasi yang digunakan sudah tidak lagi menjanjikan atau paling tidak, sudah tidak sesuai dengan kebutuhan Kalian .

Secara umum, produk investasi selalu bersifat fluktuatif, baik itu saham maupun logam mulia. Walaupun mungkin dalam investasi logam mulia fluktuasinya tidak se-ekstrem investasi saham. Karena itu, setiap produk investasi harus dipantau secara berkala. Anda perlu mengevaluasi kinerja produk investasi yang digunakan secara berkala, sekalipun Anda berencana menggunakannya untuk investasi jangka panjang.

Secara pemahaman , saya mengkategorikan investor ke dalam beberapa karakteristik berikut:

#1 Investor yang Terliterasi Keuangan dengan Baik

Investor yang terliterasi keuangan dengan baik adalah mereka yang benar-benar memahami segala seluk beluk dunia keuangan. Saya bukan hanya berbicara mengenai pengetahuan berinvestasi, tetapi juga pengetahuan mengenai keuangan secara umum. Karena seringkali memahami skema investasi saja tidak cukup, tetapi Anda juga harus memiliki pengetahuan mengenai keuangan secara luas. Dengan begitu logika berpikir investor tersebut dalam berinvestasi akan sangat mendukung peluang keuntungannya.

Bagi investor seperti ini biasanya menghitung keuntungan investasi bukanlah hal yang sulit karena ia benar-benar memahami seluk-beluk produk investasi yang digunakannya. Bahkan ia memahami produk-produk investasi lainnya yang sebelumnya telah dibandingkan satu sama lain hingga ia mendapatkan produk investasi yang dianggap paling sesuai kebutuhan dan pilihannya.

#2 Investor yang Sekadar Tahu Ilmu Berinvestasi

Tipe investor lainnya adalah investor yang sekedar tahu ilmu berinvestasi. Tipe investor ini masih mengetahui cara kerja produk investasi yang digunakannya. Tetapi pengetahuannya tidak sedalam investor tipe pertama. Biasanya investor tipe ini adalah mereka yang baru bekerja atau sudah bekerja selama beberapa tahun dan sudah mulai mampu menyiapkan dana untuk berinvestasi. Biasanya ia bukan berasal dari latar belakang jurusan yang terkait keuangan, tetapi memiliki minat untuk mempelajarinya sedikit demi sedikit.

Dengan sedikit modal pengetahuan dan sejumlah modal yang ditabung dari gaji bulanan, investor tipe ini memberanikan dirinya untuk langsung terjun ke dunia investasi. Setelah memulai praktik barulah pengetahuannya dalam berinvestasi bertambah sedikit demi sedikit. Mungkin ada lebih banyak kesalahan yang dilakukan daripada investor tipe pertama, tentunya karena investor ini hanya berbekal pengetahuan investasi yang seadanya. Investor tipe ini biasanya masih kesulitan memahami berapa besar keuntungan yang benar-benar didapatkannya serta berapa bagaimana peluang keuntungannya ke depan.

#3 Investor yang Tidak Tahu Ilmu Berinvestasi

Investor jenis ini bisa juga disebut sebagai investor ‘tebak-tebakan’ . Mereka adalah orang-orang yang belum puas dengan gaji yang sudah didapatkannya setiap bulan sehingga ingin mencari penghasilan tambahan dengan cara apapun.

Jenis Aset Yang Belum Kamu Kenali

Apakah Anda memiliki aset? Jenis aset apa sajakah yang Anda miliki ? Temukan dan kenali setiap jenis aset yang Anda miliki melalui pembahasan mengenai jenis-jenis aset dari artikel yang akan dipaparkan oleh saya di bawah ini. Selamat membaca!

Pengertian Aset atau Aktiva

Aktiva atau yang biasa disebut juga aset adalah kekayaan sumber daya yang dipunyai oleh entitas dalam bisnis yang terukur secara jelas, melalui sebuah satuan uang serta sistem pengurutannya berdasarkan pada seberapa cepat perubahannya dalam konversi menjadi satuan uang kas. Sebagai contoh, sebuah perusahaan properti akan mencatat asetnya dari barang yang memiliki nilai yang paling berharga. Misalnya, tanah atau gedung yang akan dijual namun tidak dicatat sebagai tanah/gedung tetapi sebagai inventori.

Aset juga merupakan harta kekayaan perusahaan yang digunakan untuk mendanai segala operasional perusahaan supaya tercapainya tujuan perusahaan yang salah satunya adalah laba atau keuntungan.

adapun jenis aset dapat bermanfaat secara langsung ataupun tidak langsung, dan sifatnya produktif serta masuk dalam bagian operasi perusahaan dan memiliki kemampuan dalam mengurangi pengeluaran kas. Aset ini memiliki potensi manfaat di masa yang akan datang, dimana potensi manfaat ini bisa dalam bentuk hal-hal yang produktif yang dapat menghasilkan kas ataupun setara dengan kas. Adapun manfaat yang lain dari aset ialah aset sebagai penghasil barang dan jasa (dapat ditukar dengan aktiva lain) serta melunasi kewajiban (utang).

Ada banyak cara untuk memperoleh aset, diantaranya dengan cara diproduksi ataupun dibangun sendiri, serta bisa didapat dengan membeli, atau juga dengan pertukaran aset maupun sumbangan dari pihak lain. Menurut wujudnya, aset sendiri bisa berwujud (tangible) dan tidak berwujud (intangible). Contoh aset atau aktiva, yaitu uang tunai (kas), tanah, bangunan, peralatan, perlengkapan, sewa dibayar dimuka, hak paten dan lain sebagainya.

Apabila berbicara mengenai perusahaan, setiap perusahaan pasti memiliki aset atau aktiva untuk kegiatan operasi, pembiayaan, ataupun untuk investasi. Tanpa adanya aset atau aktiva, sebuah perusahaan tidak dapat melakukan berbagai kegiatannya tersebut. Pada dasarnya, aktiva, atau sering disebut sebagai aset, yang merupakan seluruh kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan tertentu, dan kekayaan itulah yang nantinya akan digunakan oleh perusahaan untuk melakukan kegiatan operasi bisnisnya. Aktiva atau aset sangat erat kaitannya dengan kewajiban (utang) dan ekuitas. Selain karena bagian dari elemen neraca, juga karena pemerolehannya yang tidak bisa dipisahkan.

Jenis-jenis Aset atau Aktiva

Aktiva dalam akuntansi pada umumnya di kelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu: Aset Lancar, Aset Tetap dan Aset Tak Berwujud.

#1 Aktiva Lancar, Current Assets

Aktiva jenis ini biasanya digunakan dan bermanfaat dalam waktu yang relatif singkat dimana tidak lebih dari satu tahun buku dan bisa dikonversikan ke bentuk uang kas. Contoh dari aktiva lancar, yaitu: seperti uang tunai (kas/cash), temporary investment (investasi jangka pendek), accounts receivable (piutang dagang), notes receivable (wesel tagih), inventories (persediaan), accrued receivable (pendapatan yang masih akan diterima) dan prepaid expense (beban dibayar dimuka). Pada suatu neraca biasanya dikelompokkan menjadi aktiva/aset lancar dan aktiva/aset tidak lancar.

Perbandingan antara aset lancar dan kewajiban aset lancar disebut rasio lancar. Nilai ini sering digunakan sebagai tolok ukur likuiditas suatu perusahaan, yaitu kemampuan perusahaan untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Aktiva ini bukan berarti hanya bermanfaat dalam satu tahun saja, tapi karena perputaran yang sangat cepat maka aktiva yang sebelumnya mudah sekali untuk habis dan akan tergantikan dengan aktiva lainnya, begitu seterusnya hingga pada akhir tahun harus ada tutup buku.

#2 Aktiva Tidak Lancar

Aktiva ini merupakan aktiva dengan siklus dan masa manfaat yang cukup lama, yang pasti lebih dari satu tahun. Aktiva ini terbagi menjadi tiga, yaitu aktiva tetap, aktiva tidak berwujud dan investasi jangka panjang.

Aktiva Tetap, Fixed Assets

Aktiva tetap ini merupakan sumber daya/kekayaan yang dimiliki suatu entitas bisnis yang sifatnya permanen dan bisa diukur dengan jelas. Selain itu, aktiva tetap juga digunakan serta bermanfaat dalam waktu yang relatif cukup lama, atau lebih dari satu tahun buku. Tujuan dari aktiva tetap diperoleh perusahaan untuk digunakan sendiri dan tidak dijual kecuali ada hal-hal atau kondisi tertentu yang mengharuskan perusahaan tersebut untuk menjual aktiva tetapnya. Sebagai contoh suatu aktiva tetap misalnya bangunan, tanah, peralatan kantor, mesin, kendaraan dan lain sebagainya. Tujuan pembelian dari aset tetap bukan untuk diperjual belikan tetapi digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Selain itu, masa manfaat dari kepemilikan aset tetap lebih dari satu tahun. Karena masa manfaat aset tetap lebih dari satu tahun maka akan ada biaya penyusutan yang menyertainya.

Aktiva Tak Berwujud, Intangible Assets

Aktiva Tak Berwujud atau Intangible Assets ini adalah kekayaan yang manifestasinya tidak berwujud secara fisik yakni tidak dapat disentuh, dilihat, atau tidak bisa diukur secara fisik, namun dapat diidentifikasi sebagai kekayaan secara terpisah, serta kekayaan ini memberikan manfaat dan memiliki nilai tertentu secara ekonomi sebagai hasil dari proses usaha atau melalui waktu. Aset Tak Berwujud ini bisa merupakan hak-hak perusahaan yang kepemilikannya diatur dan dilindungi oleh peraturan perundang-undangan. Contoh dari Aktiva Tak Berwujud ini misalnya hak paten, hak guna bangunan, hak sewa atau hak kontrak, franchise, trademark dan goodwill dan lain-lain.

Investasi Jangka Panjang

Aktiva ini meliputi semua investasi jangka panjang yang sebelumnya atau sekarang telah dilakukan oleh perusahaan. Misalnya perusahaan A berinvestasi di perusahaan B, maka nantinya perusahaan A harus mencatat aktivanya yang berupa investasi di dalam neraca.

Pemanfaatan Aset

Aset adalah sumber ekonomi yang diharapkan memberikan manfaat usaha di hari tua. Untuk manajemen, di dalam membaca neraca, nilai aset perlu dicermati sebab menjadi dasar pengukuran prestasi keuangan perusahaan. Ukuran ini menjadi perbandingan prestasi sesuatu perusahaan dengan prestasi perusahaan yang lain dalam hal yang sama, apakah lebih baik atau tidak, sehingga bisa menjadi dasar keputusan manajemen untuk mempertahankan atau meningkatkannya.

Download Aplikasi Perencanaan Keuangan Disini

Sumber Berita

untung Dan Risiko Investasi Yang Sesuai Dengan Diri Anda

Berapa uang yang dibutuhkan untuk investasi batu berlian? Pertanyaan ini mungkin kerap ditanyakan oleh para pencinta batu berharga satu ini terutama bagi investor pemula yang memiliki minat investasi batu berlian. Pada artikel kali ini, saya akan membahas serba-serbi mengenai batu berlian agar investasi Anda menguntungkan.

Apakah Investasi Batu Berlian Menguntungkan?

Ada banyak opsi investasi yang dapat Anda coba, masing-masing dengan harga yang beragam serta risiko investasi yang berbeda. Salah satunya adalah investasi batu berlian. Investasi batu berlian adalah investasi yang sedang popoular dan mulai menarik banyak perhatian investor.

Berlian merupakan batu alam yang tahan akan goresan, tidak mudah rusak dan sangat awet, tidak heran harga berlian pun sangat mahal, bahkan ada yang mencapai miliaran rupiah. Pada investasi berlian pun biasanya Anda membutuhkan asuransi atas berlian tersebut dan hal ini akan menambah biaya investasi awal Anda.

Harga batu berlian senantiasa meningkat, ini berarti, suatu saat nanti ketika Anda ingin menjual kembali berlian Anda, Anda tidak perlu takut nilai investasi Anda akan mengalami penurunan harga. Tetapi tentu saja, harga sebuah berlian itu sendiri ditentukan oleh beberapa faktor seperti berat dan sertifikasi yang akan dibahas pada subjudul berikutnya.
Sebuah investasi akan menguntungkan jika Anda memiliki strategi investasi yang tepat, sama halnya dengan investasi batu berlian. Tanpa adanya strategi investasi yang benar, bisa saja investasi Anda akan menjadi suatu investasi yang merugikan. Salah satu contoh strategi yang benar adalah dengan membeli berlian sebagai investasi sesuai dengan kemampuan finansial Anda.

Menguntungkan atau tidaknya suatu investasi juga sangat bergantung pada berlian yang Anda beli. Logikanya, jika berlian yang Anda beli adalah berlian palsu maka tentu saja investasi Anda adalah investasi yang merugikan. Tetapi jika ternyata berlian Anda adalah berlian asli dan harganya semakin meningkat, maka investasi Anda akan memberikan return. Sebelum membahas faktor-faktor yang menguntungkan, sebaiknya Anda mengetahui cara untuk membedakan keaslian sebuah berlian.

10 Ciri Berlian Asli

Sebagai pemula , Anda harus berhati-hati dalam membeli berlian karena maraknya penipuan yang menjual berlian dengan sertifikat palsu. Berikut adalah 10 ciri-ciri berlian asli yang harus Anda perhatikan setiap akan membeli berlian.

#1: Keras

Batu berlian adalah batu yang paling keras di bumi, ini berarti benturan keras atau goresan tidak akan ‘melukai’ berlian Anda. Perhatikan apakah ada kerusakan di berlian yang Anda miliki. Jika ya, maka mungkin saja berlian yang Anda beli adalah palsu.

#2: Memiliki Berbagai Warna

Tidak hanya berwarna bening, berlian pun ada yang berwarna pink, kuning dan biru. 3 macam warna tersebut termasuk berlian dengan jenis langka. Berhati-hatilah dalam membeli berlian yang ditawarkan oleh penjual terutama jika berlian Anda memiliki warna selain ketiga warna tersebut.

Perhiasan Emas Apakah Bisa Dijadikan untuk Investasi – Perencana Keuangan Independen Finansialku

Baca Juga: Perhiasan Emas Apakah Bisa Dijadikan untuk Investasi?

#3: Dapat Menggores Benda Apapun

Kekerasan berlian lebih tinggi dibandingkan benda apapun. Salah satu cara untuk membuktikan keaslian berlian adalah dengan menggoreskan ke suatu benda yang cukup keras seperti kaca. Setelah Anda menggoreskannya, lihatlah berlian tersebut, jika tidak rusak maka berlian yang Anda miliki adalah berlian asli.

#4: Pencerminan Tidak Jelas

Berlian yang asli adalah berlian yang tidak dapat merefleksikan sesuatu dengan jelas. Jika Anda meletakkan berlian asli di atas koran, maka Anda akan kesulitan membaca tulisan di koran. Tetapi sebaliknya jika Anda dapat membaca tulisan di koran dengan jelas, maka berlian yang Anda miliki adalah berlian palsu. Biasanya berlian palsu dibuat dari kaca yang mampu merefleksikan sesuatu dengan jelas.

#5: Refleksi Abu-abu

Walaupun pencerminannya tidak jelas, berlian asli hanya dapat memberikan warna refleksi berwarna abu-abu. Jika berlian yang Anda miliki merefleksikan warna di luar daripada warna abu-abu, maka berlian tersebut kemungkinan berlian palsu.

#6: Tidak Berkabut

Selain cara-cara di atas, terdapat cara mudah yang dapat Anda lakukan untuk mengetahui keaslian berlian Anda, yaitu dengan menghembuskan nafas ke berlian tersebut. Jika kabut cepat pudar, maka berlian tersebut adalah berlian asli, tetapi jika kabut bertahan lama, maka berlian tersebut palsu.

Kenali Perbedaan Menabung Dan Investasi yang Perlu Anda Ketahui 02 – Finansialku

Baca Juga: Kenali Perbedaan Menabung Dan Investasi yang Perlu Anda Ketahui

#7: Mampu Merefleksikan Cahaya

Pastinya Anda sering mendengar bahwa berlian yang asli adalah berlian yang berkilau. Hal itu benar, karena berlian asli akan mampu merefleksikan cahaya di sekitarnya dan dari setiap sisinya. Jika ada sisi dari berlian yang Anda miliki yang tidak mampu merefleksikan cahaya, maka kemungkinan besar, berlian tersebut adalah berlian palsu.

#8: Tidak Bisa Dipanaskan

Berlian asli dapat menghilangkan panas dengan cepat, ini berarti jika Anda memanaskan berlian dengan cara dipanaskan dengan api atau uap panas, berlian Anda tidak seharusnya terasa panas. Berlian palsu adalah berlian yang terasa panas setelah Anda memanaskannya.

#9: Tidak Mudah Tergores

Sama seperti poin kedua di atas, jika berlian Anda dapat menggores benda keras seperti kaca dan berlian Anda tidak tergores, maka batu berlian yang Anda miliki adalah batu berlian yang asli.

#10: Berlian Palsu Mengapung di Air

Penipu akan memanfaatkan segala cara untuk membentuk sebuah berlian palsu dan dijual dengan harga layaknya berlian asli. Salah satu cara yang sering dipakai oleh penipu adalah dengan mencampurkan berlian asli dengan berlian palsu. Cara ini dapat dideteksi dengan mencelupkan batu berlian ke dalam air. Jika berlian mengapung maka berlian tersebut adalah berlian palsu atau telah dicampurkan dengan batu mineral lainnya.

Makin mudah rencanakan keuangan dengan aplikasi perencana keuangan. download disini

Hendak Ajukan Pinjaman Tanpa Agunan? Perhatikan Biaya-biaya Ini!

Pinjaman Tanpa Agunan (KTA) kini telah menjadi salah satu alternatif solusi dana cepat yang tren di masyarakat. Namun apakah Kamu tahu bahwa disamping utang pokok dan bunga, masih banyak biaya-biaya yang perlu Anda pertimbangkan sebelum mengajukan KTA? Sebelum ajukan pinjaman tanpa agunan, mari kita perhatikan biaya-biaya ini.

8 Biaya Ketika Anda Ajukan Pinjaman Tanpa Agunan

Jika berbicara mengenai produk pinjaman atau kredit dari bank, mayoritas dari Anda pasti langsung mempertimbangkan masa tenor dan suku bunganya untuk kalkulasi kemampuan Anda untuk melunasinya. Namun pernahkah Anda mempertimbangkan biaya-biaya lain yang mungkin muncul dan membebani Anda lebih dalam? Nyatanya, ada 8 biaya yang biasanya muncul saat Anda ajukan pinjaman tanpa agunan atau KTA lho! Apa saja ya biaya tersebut? Mari kita lihat bersama contoh produk KTA dari Bank Standard Chartered berikut ini:

Ringkasan Pembayaran

Jumlah pinjaman

: Rp10.000.000

Cicilan tiap bulan

: Rp992.333

Suku bunga per tahun

: 19,08%

Tenor pinjaman

: 12 bulan

Total pembayaran

: Rp11.908.000

Total bunga

: Rp1.908.000

Fitur Produk

Minimal pinjaman

: Rp10.000.000

Maksimum pinjaman

: Rp50.000.000

Maksimum pinjaman

: 60 bulan

Suku bunga per tahun

: 19,08% (pinjaman ≤ Rp50 juta)

15,48% (pinjaman ≤ Rp125 juta)

11,76% (pinjaman > Rp125 juta)

20,28% (khusus untuk wiraswasta/profesional)

Lama proses pengajuan

: 3-5 hari kerja

Minimal pendapatan per bulan

: Rp8.000.000

On-time Fees & Charges

Biaya admin

Biaya provisi – 3,5% dari pinjaman yang disetujui (tahun ke-1) (Diskon 50%)

Rp150.000/tahun. Tahun ke-2 sampai tahun ke-5
Biaya pelunasan dipercepat

6% dari sisa pokok pinjaman + Rp200.000 (≤ 24 bulan)

6% dari sisa pokok pinjaman (> 24 bulan)

Denda dan Biaya Keterlambatan

Denda keterlambatan

: Rp225.000 atau 6% dari cicilan per bulan (mana yang lebih besar)

Biaya lain

: Biaya tahunan – Rp150.000 (tahun ke-2 sampai ke-5

Disclaimer: Penyebutan merek pada postingan ini hanya bertujuan sebagai sarana edukasi, bukan untuk tujuan-tujuan lainnya.

Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai biaya-biaya tersebut, melalui artikel ini, Finansialku mengajak Anda untuk perhatikan biaya-biaya ini sebelum ajukan pinjaman tanpa agunan.

#1 Biaya Bunga

Biaya yang pertama-tama akan muncul adalah biaya bunga. Besaran bunga yang dikenakan berbeda-beda pada setiap bank dengan kisaran 10% hingga 23% per tahun. Jenis suku bunga yang dikenakan pada KTA adalah suku bunga tetap (fixed) sehingga nilainya akan selalu tetap pada setiap periode. Biaya bunga akan diperhitungkan sesuai jumlah pinjaman yang disetujui sebelum dipotong oleh biaya provisi. Apa itu biaya provisi, Anda dapat mengetahuinya di bawah ini.

#2 Biaya Provisi

Biaya provisi merupakan biaya administrasi yang umumnya dipotong secara langsung dari jumlah pinjaman yang disetujui oleh bank. Jumlahnya disesuaikan dengan besaran pinjaman yang diperoleh nasabah dan dapat berupa jumlah tertentu atau berupa persentase dari jumlah pinjaman. Anda perlu mengetahui dan memahami terlebih dahulu mengenai biaya ini untuk mengantisipasi kebingungan akibat perbedaan jumlah dana yang diterima dengan plafon yang sudah disepakati sebelumnya.

#3 Biaya Dimuka

Merupakan biaya yang harus dibayarkan di luar angsuran. Besarnya berbeda-beda dan memiliki kisaran antara 1,5% hingga 5% dari total pinjaman.

Apakah Bisnis, Pilih Kredit Multi Guna, KTA, Kartu Kredit, Kredit Investasi atau Kredit Modal Kerja?

Baca Juga: Pilih Kredit Multi Guna atau KTA (Kredit Tanpa Agunan)?

#4 Biaya Meterai

Biaya yang dikenakan kepada nasabah untuk seluruh kebutuhan meterai dalam perjanjian pinjam-meminjam. Terkadang ada bank yang bersedia menanggung biaya meterai yang tergolong kecil, namun mayoritas bank tetap membebankannya ke nasabah.

#5 Biaya Pelunasan Dipercepat

Tahukah Anda jika KTA memiliki ketentuan untuk membayar sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan sebelumnya? Selain tidak diperbolehkan untuk telat membayar, ternyata ada juga ketentuan berupa biaya penalti jika Anda membayar lebih cepat dari waktu yang telah ditentukan sebelumnya. Biaya tersebut merupakan biaya pelunasan dipercepat yang besarnya berkisar antara 5% hingga 6% dari sisa pinjaman Anda. Biaya ini merupakan konsekuensi dari pelanggaran perjanjian masa tenor yang telah disepakati kedua belah pihak (pihak debitur dan pihak bank) pada awal perjanjian.

#6 Biaya Keterlambatan Pembayaran

Seperti telah disebutkan pada poin sebelumnya, ada biaya yang dikenakan kepada nasabah jika terlambat membayar angsuran. Seperti biaya keterlambatan pada produk pinjaman lainnya, biaya ini biasanya cukup besar dan akan sangat merugikan nasabah. Biaya keterlambatan pembayaran biasanya ditetapkan dalam persentase.

apakah-bisa-mahasiwa-mengajukan-kta-kredit-tanpa-agunan-2-finansialku

Baca Juga: Apakah Bisa, Mahasiwa Mengajukan KTA (Kredit Tanpa Agunan)?

#7 Biaya Tahunan

Selain biaya provisi yang dikenakan pada awal pencairan pinjaman, biaya tahunan juga akan dikenakan kepada nasabah pada tahun-tahun berikutnya selama masa tenor berlaku. Tidak seluruh bank mewajibkan biaya tahunan, namun sebaiknya Anda menanyakan dengan jelas terlebih dahulu apakah Anda akan dikenakan biaya tahunan atau tidak sebelum mengajukan pinjaman.

#8 Biaya Asuransi

Pihak bank juga menyediakan fasilitas asuransi pada produk KTA, namun Anda sebagai nasabah wajib membayar sejumlah biaya asuransi seperti telah ditetapkan oleh pihak bank. Asuransi ini bertujuan untuk melindungi ahli waris pengguna KTA agar jika suatu hari debitur meninggal dunia, ahli waris tidak akan dibebani oleh sisa utang yang ditinggalkan. Alih-alih perusahaan asuransilah yang akan menanggung beban sisa kredit debitur tersebut. Dalam kondisi praktis, disarankan agar mengambil asuransi jika:

Rasio utang terhadap aset Anda sudah lebih dari 50%, dan
Perbandingan cicilan utang terhadap penghasilan bersih lebih dari 20%.

Apakah Biaya Administrasi Pinjaman Tanpa Agunan, Bisa Lebih Berat daripada Biaya Bunga?

Karena kemudahannya, sebenarnya Kredit Tanpa Agunan (KTA) dapat digunakan untuk segala kebutuhan, namun kecuali dalam keadaan mendesak yang membutuhkan dana cepat, hindari menjangkau KTA sebagai solusinya. Mengapa demikian? Ternyata biaya administrasinya saja sudah sangat berat dan lebih mencekik daripada biaya bunga. Sehingga salah besar jika pertimbangan Anda mengajukan KTA hanya dari bunganya saja.

Makin mudah dengan Aplikasi Perencana Keuangan. Yuk Download disini !

Keterbukaan Data Nasabah: Punya saldo Rp200 juta, Data Anda Dilaporkan ke Ditjen Pajak

Tahukah Anda , sekarang ini eranya keterbukaan data nasabah. Jika Anda memiliki uang senilai Rp 200 juta atau lebih di rekening, maka lembaga keuangan akan serahkan data Anda ke Ditjen Pajak. Aturan tersebut akan telah berlaku dan penyampaian maksimal April 2018.

Menurut Perppu No 1/2017 tentang Akses Data Keuangan untuk Perpajakan: Lembaga Keuangan Harus Menyerahkan Data Nasabah ke Ditjen Pajak
Kementerian keuangan telah mengeluarkan beleid pelaksana Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang atau Perppu No 1/2017 tentang Akses Data Keuangan untuk Perpajakan. Peraturan tersebut dilengkapi dengan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 70/2017 yang berlaku pada 31 Mei 2017.

PMK tersebut menjadi tolak ukur otoritas pajak untuk mendapatkan data keuangan nasabah. Terkait dengan keterbukaan data nasabah, tidak semua data dilaporkan kepada Ditjen Pajak. Melansir dari harian bisnis dan investasi Kontan, informasi keuangan yang wajib dilaporkan otomatis adalah:
1. Identitas pemegang rekening keuangan (nama, alamat, negara domisili untuk kepentingan pajak, TIN, tempat dan tanggal lahir bagi orang pribadi dan identitas pengendali bagi entitas).
2. Nomor rekening keuangan
3. Identitas lembaga keuangan (contoh: bank, koperasi, perusahaan asuransi, perusahaan sekuritas, perusahaan berjangka)
4. Saldo atau nilai rekening keuangan pada akhir tahun kalender (termasuk cash value / surrender value bagi kontrak asuransi).
5. Penghasilan terkait rekening keuangan (bunga, dividen, jumlah lain yang harus dibayarkan atau dikreditkan ke rekening keuangan).

Cash value atau surrender value merupakan jumlah uang yang harus dibayarkan perusahaan asuransi kepada pemegang polis sesuai dengan penjelasan di polis.
Cash value atau surrender value akan keluar jika polis diberhentikan sebelum jatuh tempo (misal klaim tertanggung meningggal dunia sebelum polis berakhir) atau terjadi suatu risiko yang diasuransikan. Nilai cash value adalah komponen tabungan dari polis asuransi jiwa.
Surrender value dikenal juga dengan istilah cash value, policyholder’s equity.

Berapa Batasan Rekening Keuangan yang Wajib Dilaporkan ?
Melansir dari berbagai sumber, batasan yang berlaku dalam program keterbukaan data nasabah adalah:
Jenis Nasabah Lembaga Keuangan
Batasan Pelaporan
Nasabah perorangan (domestik) Bank Rp 200 juta
Nasabah perorangan (domestik) Koperasi Rp 200 juta
Nasabah perorangan (domestik) Asuransi Uang Pertanggungan (UP) 200 juta
Nasabah perorangan (domestik) Pasar Modal dan Berjangka Tidak ada batas, semua saldo dilaporkan
Perusahaan Domestik Bank Tidak ada batas, semua saldo dilaporkan

Kira-kira berapa banyak warga Indonesia yang memiliki rekening dengan saldo minimum Rp 200 juta?
• Melansir sumber Kontan (sumber 2), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat hingga April 2016 terdapat 2,31 juta rekening nasabah bank dengan nilai simpanan di atas Rp 200 juta. Jumlah uang yang berada di 2,31 juta rekening tersebut adalah Rp 4.051,25 trilliun (setara dengan 80,8% total dana pihak ketiga industri perbankan).
• Dilansir dari sumber Kontan (sumber 3), Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani mengatakan jumlah rekening dengan saldo minimal Rp 200 juta dimiliki oleh 2,3 juta rekening. Angka tersebut hanya setara dengan 1,14% dari jumlah rekening yang ada.

Mengenai dengan program AEOI (Automatic Exchange of Information) perpajakan internasional, pemerintah telah mengatur keterbukaan data nasabah dari bank ke Ditjen Pajak. Ternyata pelaporan data nasabah, tidak hanya dilakukan oleh bank. Lembaga-lembaga keuangan seperti perusahaan asuransi, pasar modal, perusahaan berjangka juga harus melaporkan data nasabahnya sesuai dengan peraturan yang berlaku. Pelaporan otomatis tersebut harus segera diselenggarakan oleh lembaga keuangan, paling lambat 30 April 2018.

Apakah Program Keterbukaan Data Nasabah akan Aman dengan Adanya Pelaporan Otomatis?
Dampak dari adanya keterbukaan data nasabah dan pelaporan otomatis ini adalah kekhawatiran nasabah lembaga keuangan. Apakah data saya akan aman jika terjadi pelaporan otomatis?
• Perppu 1/2017 juga mengatur perlindungan terhadap kita sebagai konsumen. Salah satu perlindungan konsumen adalah sanksi jika terjadi penyalahgunaan data. Lembaga keuangan (bank, perusahaan asuransi, perusahaan sekuritas dan perusahaan berjangka), pimpinan perusahaan, karyawan perusahaan dapat dikenai denda Rp 1 Milliar atau penjara maksimal 1 tahu jika membocorkan data untuk kepentiangan lain selain perpajakan.
• Melansir sumber Kontan, Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani mengatakan agar kita jangan panik dan resah, jika uang yang berada dalam rekening berasal dari gaji tetap yang sudah dipotong PPh (pajak penghasilan).
• Petugas pajak juga sudah memahami benar fungsi utama keterbukaan data nasabah bukan untuk mencari-cari kesalahan. Ibu Sri Mulyani mengatakan jika kita merasa dirugikan oleh oknum petugas pajak, maka kita dapat melaporkan melalui fasilitas call center dan whistle blower system.

Apakah aman jika kita mengalokasi dana ke luar negeri?
Pada dasarnya sama saja, karena negara-negara sudah menyetujui AEoI (Automatic Exchange of Finacial Information). Jadi dana Anda di luar negeri juga akan diperiksa oleh otoritas pajak setempat dan dikirimkan laporannya kepada pemerintah Indonesia. Dengan kata lain, kita sebagai nasabah tidak memiliki celah untuk bersembunyi atau lari dari kewajiban pajak.

Banyak orang yang belum mau membayar pajak, karena mungkin belum tahu manfaat membayar pajak. Tahukah Anda bahwa pajak yang kita bayarkan, digunakan oleh pemerintah untuk membangun bangsa. Dilansir dari Facebook resmi Kementerian Keuangan Indonesia setiap Rp 1 juta pajak yang kita bayarkan.

Masyarakat Tidak Perlu takut dengan Keterbukaan Data Nasabah, Jika Sudah Comply dengan Peraturan Perpajakan.

Makin mudah merencanakan keuangan dengan Aplikasi Perencana Keuangan. Download disini